Warning: preg_replace(): Compilation failed: nothing to repeat at offset 2 in /var/www/html/wp-includes/function.php on line 305
[PDF] ✓ Free Download ✓ Jalan ke Barat Matahari Benam : by Bagus Dwi Hananto ✓

Jalan ke Barat Matahari Benam

Jalan ke Barat Matahari Benam

Bagus Dwi Hananto / Apr 22, 2021

Jalan ke Barat Matahari Benam bahkan sunyi ladang soreserta burung pulangtak sempat mengejawantah kepergiannyabahkan jarak dan debutak surut menyembilukedalam matanya sebongkah kabutdenyut tiga jam lawasadalah tepuk cakap yang taw

  • Title: Jalan ke Barat Matahari Benam
  • Author: Bagus Dwi Hananto
  • ISBN: -
  • Page: 272
  • Format: Paperback
  • bahkan sunyi ladang soreserta burung pulangtak sempat mengejawantah kepergiannyabahkan jarak dan debutak surut menyembilukedalam matanya sebongkah kabutdenyut tiga jam lawasadalah tepuk cakap yang tawaria bertanya lagi pada dinding kosongjalan raya masihkah ada besok bisakah ada hari esok dan merepetisi dingin gerimis tidakkah esok selalu pertanyaan

    • [PDF] ✓ Free Download ✓ Jalan ke Barat Matahari Benam : by Bagus Dwi Hananto ✓
      272 Bagus Dwi Hananto
    • thumbnail Title: [PDF] ✓ Free Download ✓ Jalan ke Barat Matahari Benam : by Bagus Dwi Hananto ✓
      Posted by:Bagus Dwi Hananto
      Published :2021-01-06T12:21:30+00:00

    About "Bagus Dwi Hananto"

      • Bagus Dwi Hananto

        Bagus Dwi Hananto, lahir di Kudus, 31 Agustus 1992 Menulis prosa dan puisi.


    555 Comments



    1. Kliseburung-burung terjatuh ke tanahmengiringi langit mendung kematian itu tak bisa digusahkarena luka setia pada amandel bahasa menyuara di saat akhiraku tak bisa melupakanmu hingga bulan biru terhapus dari memorikuaku ingin menjatuhkan diriku seperti burung-burung tanda kematian bangkit menari dalam tubuhdan torso yang melekat ini akan bekutak ada lagi pergerakan daun yang coba dituliskansebagai klise. cuma cetakan wajahku di air danautenang, gema gerimis melingkar-lingkar bak dansaanjing meng [...]


    2. seseorang berjalan di belakang bayangankumeniru cara dia nulis sajak, dan menanam inginbersua sekali saja dengan rimbaud di nerakalalu kembali atau tak kembalimampus dalam kemegahan sunyiseseorang berjalan di belakang orang berjalan di belakang bayangkumeniru cara dia diam, arca yang tak ditemukan siapapundan akan begitu saja sampai ada titik akhir dari ketakadaan itu


    3. kucing itu di depan pintumenatap sore sebagaimana biasa dan mendengar bunyi sakral tempat ibadahlalu pergi keluar memburu tikuspenyair itu duduk dan meminum kopinyatetap ada di sore itu juga namun keluar jauh dengan pikirannyake sabana-sabana penuh singameninggalkan kucing kesayangannya


    4. yang menjelma rinai dalam hatikuadalah kesepian mengamatimu tertawa,bercanda mengenai dunia dan jam-jamnyaaku ialah inci pertama tetes hujan ke pundakmuyang lelah mengawinkan kebahagiaan danrasa cemas menunggu kepalsuan wajahmumembenturi kenyataan dalam diriku


    5. Buku puisi meminjam filsafat Thung-Ciao, adalah tabung gon-sua yang tak bisa dipecah kecuali jika jiwa sendiri menyetubuhi keringat dirinya dan mati dalam kesedihan. Di buku ini tak bisa ditemukan kesenangan dalam "sedih" itu.



    6. Yang ni ajaaku terpeleset berkali-kali dan tercampak pada kubangan yang tak sengaja kau injaksementara kau telah tertawa berkali-kalidan terhenti manakala sepatumu kotorkarena diriku lumpur dalam keruh lobang itukau pakai topeng jido, peri sedihyang memainkan perasaan penontonnyadan aku tersangkut batuk-batuksebagai penguin Magellan yang berusahamemanggil induknya untuk sarapan pertamakau keluar dari pintu dalam hatikudan seenaknya menyerahkan luka seberat gorila punggung perak yang duduk membat [...]


    7. Nampak pula def penyair dalam baris puisi ini seorang penyair mendudukkan kucing jeruk di dekat kakinyakucing oranye jinak yang tahu duka muram puisiyang mendengar penyair itu membaca kata-kata turunseperti hujan di malam sedih yang berasal dari sebuah novelmalam dimana kau dan aku adalah karakter yang tak bisamemilih nasibnya sendiri sebab terbebat alurlam, dengan gagak tertawa mengolok kematian orangtuayang tak tahu lagi mesti kemana setelah ini:


    8. Ngebet nak diakui penjair----------digayuti mimpi-mimpi romantik akan puisiseorang diri di kotanya yang fanaberjalan sempoyongan dengan sebongkah batu di bahu. dan siapa kira, dia bakal tak adasetelah 360 derajat berputar dalam tujuh puluhketukan. Setelah musik itu berhenti-------------













    9. Aku suka bagian iniaku membuka lipatan dunia tak ada kuda masalalu yang berderap kencang membawa api Prometheus [puisi Lorong Gelap]








    Leave a Reply